Makna Kesabaran
Makna Kesabaran
Oleh HABIB ALWI ASSEGAFF
”APAKAH manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (begitu saja) berkata, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka (dengan ujian itulah) sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta" (Q.S. Al-Ankabuut: 2-3).
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya! sungguh indah dan tepat sekali ayat ini yang menjelaskan kepada kita bahwa setiap klaim tentang keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT. memerlukan pembuktian. Setiap orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman, bersiap-siaplah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dari Allah. Sebab, hanya dengan proses ujian inilah nanti akan diketahui dan terbukti siapa yang benar dalam pengakuannya dan siapa yang dusta. Kita semua tahu bahwa setiap bentuk ujian membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Sabar dalam menjalaninya; jangan sampai kita gagal di pertengahan atau kandas di ujung jalan, jangan sampai batin kita keluar dari garis ketabahan, ketegaran dan penyerahan diri secara total (tawakal) kepada Allah, dan jangan pernah biarkan diri kita terjerumus ke dalam jurang kekecewaan (pesimis) atau berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah.
"Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir" (Q.S. Yusuf: 87). Ikhlas dan murnikanlah niat kita dalam menghadapi segala cobaan tersebut begitu juga kesabaran yang menyertainya, hanya sebagai niat ibadah, taat dan kecintaan kita kepada Allah semata, jangan sampai kita telah berusaha keras dan bersabar dengan susah payah, (namun karena tidak ikhlas) segala jerih payah kita ini menjadi sia-sia atau bahkan menjadi bumerang bagi kita sendiri. Na'udzu billahi min dzalik!.
Ujian dan kesabaran adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan, sebagaimana sabda Nabi saw. "Barangsiapa yang mau bersabar, maka siap-siaplah menghadapi cobaan". Lebih jauh lagi Allah SWT berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu; dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, (kehilangan) jiwa dan (kerugian dalam) buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa suatu musibah, mereka mengucapkan:" "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali. Mereka itulah yang mendapatkan berkah yang sempurna (shalawat) dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". (Q.S. Al-Baqarah: 155-157).
Kenapa kita mesti sabar?, berikut ini beberapa ayat dan riwayat sebagai jawabannya; Allah SWT berfirman: "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah siapa orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata siapa orang-orang yang sabar" (Q.S. Ali Imran: 142).
Sesungguhnya surga itu hanya bisa dicapai oleh hamba-hamba Allah yang sabar: "Mereka itulah
orang-orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka dan disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya" (Q.S. Al-Furqan: 75), "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (dengan) surga dan (pakaian) sutera" (Q.S. Al-Insan: 12). Nabi Muhammad saw bersabda: "Barangsiapa yang menginginkan surga tetapi tidak sabar terhadap hal-hal yang sulit dan pahit, sungguh ia telah bercanda atas dirinya sendiri". Imam ali as. berkata, "Hanya dengan sabar, cita-cita tertinggi bisa diraih".
Tentang kesabaran ini diriwayatkan juga, bahwa Nabi Isa almasih as. berkata: "Sungguh engkau tidak akan bisa mencapai apa-apa yang kau cintai, kecuali dengan kesabaranmu dalam menghadapi apa-apa yang kau benci". Dalam kitab-kitab akhlak disebutkan bahwa sabar itu ada tiga macam. 1. Sabar dalam musibah. 2. Sabar dalam ibadah dan taat kepada Allah. 3. Sabar dalam meninggalkan maksiat. Selain ketiga jenis sabar ini ada juga yang menambahkan jenis keempatnya; yaitu sabar di saat kaya, bahagia dan sejahtera. Banyak manusia yang sabar ketika miskin atau susah, namun ketika keadaan berubah mereka tidak kuat derajat dengan kekayaan atau jabatan; karena menahan lapar di saat makanan tidak ada lebih mudah daripada menanggung lapar ketika banyak makanan di depan mata.
Selama hidup di dunia ini kita tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, sebab dengan ujian inilah maka manusia akan matang dan dewasa secara spiritual (rohaniah). Tahapan demi tahapan dari ujian yang kita terima merupakan saat-saat yang akan selalu menentukan; Apakah maqam spiritual kita naik atau terpuruk, apakah derajat keimanan kita bertambah atau tidak. Setiap saat kita diperintah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Oleh sebab itu, maka kesabaran ini tidak pernah mengenal batas. Kesabaran menunjukkan cahaya dan kesucian yang ada dalam batin manusia. Bagi sebagian orang awal kesabaran itu mungkin pahit, tapi akhirnya manis dan indah seperti ucapan Nabi Ya'qub as. (Q.S. Yusuf: 18). Tetapi untuk sebagian yang lain kesabaran itu, baik awal maupun akhirnya sama-sama pahit. Kita tidak akan bisa mencapai hakikat iman dan takwa selama tidak bisa merasakan manis dan indahnya kesabaran ini. Bahkan, seseorang yang memahami nilai kesabaran tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan kesabaran tersebut.
Semoga kita dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan orang yang sabar, karena "Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan dibalas dengan pahala yang tanpa batas" (Q.S. Az-Zumar: 10). Begitu juga firman Allah: "Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (Q.S. Al-Anfal: 46)***
Oleh HABIB ALWI ASSEGAFF
”APAKAH manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (begitu saja) berkata, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka (dengan ujian itulah) sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta" (Q.S. Al-Ankabuut: 2-3).
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya! sungguh indah dan tepat sekali ayat ini yang menjelaskan kepada kita bahwa setiap klaim tentang keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT. memerlukan pembuktian. Setiap orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman, bersiap-siaplah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dari Allah. Sebab, hanya dengan proses ujian inilah nanti akan diketahui dan terbukti siapa yang benar dalam pengakuannya dan siapa yang dusta. Kita semua tahu bahwa setiap bentuk ujian membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Sabar dalam menjalaninya; jangan sampai kita gagal di pertengahan atau kandas di ujung jalan, jangan sampai batin kita keluar dari garis ketabahan, ketegaran dan penyerahan diri secara total (tawakal) kepada Allah, dan jangan pernah biarkan diri kita terjerumus ke dalam jurang kekecewaan (pesimis) atau berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah.
"Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir" (Q.S. Yusuf: 87). Ikhlas dan murnikanlah niat kita dalam menghadapi segala cobaan tersebut begitu juga kesabaran yang menyertainya, hanya sebagai niat ibadah, taat dan kecintaan kita kepada Allah semata, jangan sampai kita telah berusaha keras dan bersabar dengan susah payah, (namun karena tidak ikhlas) segala jerih payah kita ini menjadi sia-sia atau bahkan menjadi bumerang bagi kita sendiri. Na'udzu billahi min dzalik!.
Ujian dan kesabaran adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan, sebagaimana sabda Nabi saw. "Barangsiapa yang mau bersabar, maka siap-siaplah menghadapi cobaan". Lebih jauh lagi Allah SWT berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu; dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, (kehilangan) jiwa dan (kerugian dalam) buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa suatu musibah, mereka mengucapkan:" "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali. Mereka itulah yang mendapatkan berkah yang sempurna (shalawat) dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". (Q.S. Al-Baqarah: 155-157).
Kenapa kita mesti sabar?, berikut ini beberapa ayat dan riwayat sebagai jawabannya; Allah SWT berfirman: "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah siapa orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata siapa orang-orang yang sabar" (Q.S. Ali Imran: 142).
Sesungguhnya surga itu hanya bisa dicapai oleh hamba-hamba Allah yang sabar: "Mereka itulah
orang-orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka dan disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya" (Q.S. Al-Furqan: 75), "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (dengan) surga dan (pakaian) sutera" (Q.S. Al-Insan: 12). Nabi Muhammad saw bersabda: "Barangsiapa yang menginginkan surga tetapi tidak sabar terhadap hal-hal yang sulit dan pahit, sungguh ia telah bercanda atas dirinya sendiri". Imam ali as. berkata, "Hanya dengan sabar, cita-cita tertinggi bisa diraih".
Tentang kesabaran ini diriwayatkan juga, bahwa Nabi Isa almasih as. berkata: "Sungguh engkau tidak akan bisa mencapai apa-apa yang kau cintai, kecuali dengan kesabaranmu dalam menghadapi apa-apa yang kau benci". Dalam kitab-kitab akhlak disebutkan bahwa sabar itu ada tiga macam. 1. Sabar dalam musibah. 2. Sabar dalam ibadah dan taat kepada Allah. 3. Sabar dalam meninggalkan maksiat. Selain ketiga jenis sabar ini ada juga yang menambahkan jenis keempatnya; yaitu sabar di saat kaya, bahagia dan sejahtera. Banyak manusia yang sabar ketika miskin atau susah, namun ketika keadaan berubah mereka tidak kuat derajat dengan kekayaan atau jabatan; karena menahan lapar di saat makanan tidak ada lebih mudah daripada menanggung lapar ketika banyak makanan di depan mata.
Selama hidup di dunia ini kita tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, sebab dengan ujian inilah maka manusia akan matang dan dewasa secara spiritual (rohaniah). Tahapan demi tahapan dari ujian yang kita terima merupakan saat-saat yang akan selalu menentukan; Apakah maqam spiritual kita naik atau terpuruk, apakah derajat keimanan kita bertambah atau tidak. Setiap saat kita diperintah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Oleh sebab itu, maka kesabaran ini tidak pernah mengenal batas. Kesabaran menunjukkan cahaya dan kesucian yang ada dalam batin manusia. Bagi sebagian orang awal kesabaran itu mungkin pahit, tapi akhirnya manis dan indah seperti ucapan Nabi Ya'qub as. (Q.S. Yusuf: 18). Tetapi untuk sebagian yang lain kesabaran itu, baik awal maupun akhirnya sama-sama pahit. Kita tidak akan bisa mencapai hakikat iman dan takwa selama tidak bisa merasakan manis dan indahnya kesabaran ini. Bahkan, seseorang yang memahami nilai kesabaran tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan kesabaran tersebut.
Semoga kita dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan orang yang sabar, karena "Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan dibalas dengan pahala yang tanpa batas" (Q.S. Az-Zumar: 10). Begitu juga firman Allah: "Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (Q.S. Al-Anfal: 46)***
